Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Maret 2019

Tentang Aku yang Gak Bisa Maju

So last year, I promised myself to enter 2019 with a new start. New job, new me, new heart. Stand with broad smile, keep the head high, moving on. Left the last job, left my education stage, left my thoughts about you.

I thought I've been stupid and crazy, all of my doing lately was unnecessary. And I need a clean slate. It was coming, and I thought I was ready. New challenge, new people, new environment, new attitude. Let's do this, I said to myself.

I fail. Hard.

Look, acting strong is hard. But crying all over again and beating myself up to it is also hard. I'm tired. So why not be oblivious, right? I could be okay. You were a big part of my life, sure, but I can move on. I can. I screamed in my head. I can move forward!

But today I realize I cannot. Just one glimpse of you, and the damage is done. Just like that, in that split second. What is wrong with me, maybe you ask to yourself. To be honest, I don't know. I know this is not healthy. I know I have to let go. I know time will heal. I know we are not destined to be together. Shit, you, or anyone else, do not have to tell me that over and over. I am not a moron.

It's just, I don't know how.

So today I will drown in my sorrow. I don't know till when. I don't know if I will come back to the surface again. Screw un-hurt heart and sincere smile. It's just a bunch of lies.

I will be happy that you are happy, someday. But not today.

Kamis, 30 November 2017

Badainya di Dalam, Bukan di Luar

Setelah mengalami episode depresi yang entah disebabkan oleh apa (atau gue mengelak untuk mencari tau alasannya, either way), gue memutuskan untuk sering keluar dari kamar kosan dan berinteraksi lebih sering bersama orang-orang yang bisa dibilang hampir selalu hadir dalam kehidupan perkuliahan selama dua tahun belakangan ini : akademik lyf, perkawanan, politik.

Gue mencoba buat ngedatengin satu per satu, tapi ada satu hal yang bikin agak terkejut.

Suatu ketika, setelah sekian lama, akhirnya gue cabut bareng Indi dan Rafi ke tempat makan favorit : Mie Kober. Ngobrol. Ketawa. Gimana skripsi? Siapa dosbing? And those opening talks.

Gak tau jelas juga kapan kita berbelok jadi real o'clock. Tiba-tiba semuanya ngasih tau apa sih yang sebenernya ada di dalam hati : rasa gak berguna; menyadari bahwa hidup ini sebenernya lu arungi sendiri, cuma orang tua yang truly support; yang terjadi ketika sandungan  kecil yang diremehkan di awal membuat kehancuran bertubi-tubi di akhir cerita.

Ada satu ketika, momen di malam itu, sepulang dari obrolan yang membuat gue berpikir. I'm not who I really am with my now friends. Dan kenapa? Bukankah selalu berusaha menjadi yang benar untuk diri sendiri adalah yang gue usahakan, for, like, what, 20 years? Tapi kejadian juga. Ada sebagian diri yang gue sembunyikan. Temen-temen yang bener-bener mengerti apa adanya malah gue buang karena hal sepele.

Saat itu gue berpikir. Mungkin depresi gue juga sebagian disebabkan karena gak bisa nunjukkin asli diri ini ke luar, karena harus ke siapa? Ketika gue ceritain masalah gue, gak ditanggepin juga dengan baik. Dismissed as if it was nothing. Dan mungkin emang bukan sesuatu, but still. Dua orang yang biasanya menyokong gue di awal kehidupan perkuliahan malah gue bakar jembatannya karena hal yang sebenernya gak penting. Gak berani lagi bangun hubungan ke mereka, karena what's the point? It's already in the past, what's done is done, I thought, but is it really?

Gue udah tau gue bukan orang baik. Gue bukan orang yang peduli penampilan luar (kecuali lu bau badan dan obesitas. Bau badan berarti lu jorok dan bisa mengarah ke masalah kesehatan, begitu pula obesitas, karena pengalaman buruk gue sendiri). Pikiran gue bisa dikata komentar-komentar sinis nan brengsek yang bisa membuat pendengar sakit jantung. Gue pembohong handal, gampang tersulut amarah, kasar, dan nyablak. Gue gak bisa tunjukkin semua itu.

Tau betul hidup dalam kepalsuan, tapi diem aja. Tiba-tiba takut, jangan-jangan gue akan selalu berdiri dalam topeng, gak berani buka siapa gue sebenarnya.

Minggu, 03 September 2017

Tumpul

Akhir-akhir ini gw benci sendirian.

Di masa lalu, gw selalu nyaman sendiri. Menikmati waktu tanpa ada yang mengganggu, pikiran bisa berkelana kemana-mana, bisa menikmati yang memang ingin dinikmati. Tapi, waktu sendiri sekitaran ini gak tertahankan dan pengen bikin muntah.

Pernah gak sih, di kepala lo, tiba-tiba, sebuah pikiran merayap : tujuan hidup gw apa sih?

Kenapa lo eksis? Kenapa lo berpijak di bumi detik ini? Apa yang bakal terjadi di masa depan? Kepikirankah, bahwa kepergian lu dari dunia cuma bakal membawa duka bagi orang tua atau (finger crossed) keturunan lu. Setelahnya sisa-sisa bahwa lu pernah bernapas di permukaan tanah gak lagi ada.

Gw benci sendirian, karena pertanyaan itu terulang-ulang ribuan kali jadinya. Bikin takut. Jantung jadi berdebar, telinga berdenging, napas tak beraturan. Ketakutan.

Mencari jawaban pun udah gw usahakan, tapi buntu. Ada yang menghalangi otak gw untuk berpikir. Yang gw incer selama ini, produk dari hidup yang sangat labil beberapa tahun belakangan, adalah hidup stabil yang bahagia. Gak perlu khawatir tentang finansial, atau kesehatan, atau keselamatan mental. Hidup yang normal.

Tapi sekarang, gw ingin lebih. Disamping happy life, gw pengen punya excitement terhadap hidup. Terhadap keluarga, pekerjaan. I wanna do something that makes other people life better, too, and the only answer come to mind in order to achieve that is social work. Padahal, gw pengen sejahtera keuangan juga, gimana bisa tercapai, kan? Tapi, kalo semuanya soal uang, gimana gw bisa bahagia, kan? Besides, apa fungsi gw ke dunia?

Gw harus apa?

Akhir-akhir ini gw benci sendirian. Mungkin emang benar, gw adalah manusia penuh penyangkalan.

Minggu, 14 Mei 2017

Kehilangan Sahabat Lagi

Jumat, 12 Mei 2017.

Gw nangis tersedu-sedu. Udah lama banget gw gak nangis sampe kayak gitu. Terakhir kali air mata gw banjir sampe menyumbat tenggorokan, hidung, mata, dan telinga, sampe gw mau teriak, sampe terisak-isak, itu tiga tahun yang lalu. Karena masalah yang berbeda.

Karena dibesarkan oleh orang tua paling tidak romantis, I-care-about-you-but-do-not-make-me-say-it, jangan-nangis-karena-nangis-gak-menyelesaikan-masalah kind of family. gw terbiasa mengubur perasaan dalam-dalam. Selalu tertawa. Selalu ceria. "Lebih baik terlihat sombong daripada rendah diri," kata bokap gw suatu hari.

Gw pernah jatuh cinta. Dua kali. Dua-duanya punya rasa yang berbeda ; karena yang satu tepuk tangan, yang satu lagi bertepuk sebelah tangan. Tapi, gw rasa gw gak pernah rasain apa yang lo rasain.

Ketika lo perlahan menjauh, gw hanya mengendikkan bahu. Ketika orang-orang sekitar gw bilang bahwa seharusnya gw marah, gw malah ketawa. Kenapa gw harus murka? Sahabat gw, yang berbulan-bulan sengsara karena cinta, akhirnya bahagia. Seharusnya kan gw ikut gembira? Iya kan? Logis, kan?

Yang tadinya kita makan malam tiga kali seminggu, jadi sekali sebulan. Yang tadinya sering chat, curhat, nangis bareng, ketawa bareng, jadi saling sapa di koridor kampus aja. "Gak apa-apa," pikir gw. "Kenapa emang kalo dia lebih seneng menghabiskan waktu bareng si dia?"

Harusnya gw sadar, gw udah mulai merasa ditinggal. Tapi, dengan dalih "Temen macam apa yang sedih ketika temennya lagi bahagia?", gw tetep tersenyum ceria.

Di tengah bulan November, semua berubah.

Kala itu, air menampar bumi begitu keras. Gw, yang lagi demam parah, gak tau harus minta tolong ke siapa untuk beli makan. Padahal, gw butuh untuk minum obat. Gw terobos hujan dengan motor demi makan nasi. Dalam hitungan detik, gw basah kuyup.

Nasi udah di tangan, saatnya pulang. Saat itu, gw liat lo sama si dia, sepertinya hendak pergi ke suatu tempat.

Gw kedinginan, kepala gw berdenyut, telinga berdenging, mata perih. Mood gw juga lagi sangat buruk. Bukannya siang tadi lo bilang ada acara kampus, jadi gak bisa pergi sama gw? Kenapa sekarang lo sama dia?

Maaf. Gw minta kelonggaran. Kondisi gw lagi gak fit, baik fisik maupun batin. Jadi, kemarahan membakar seluruh tubuh gw dalam hitungan detik. Gw dibohongin! pikir gw kala itu. Lo lebih milih main dengan si dia daripada gw!

Hujan masih deras. Gw masih sakit. Semua masih sama. Tapi isi kepala gw udah berbeda. Frase itu, cap itu, muncul di diri gw. "Gw dibuang."

Gw berusaha biasa aja. Tapi, berbulan-bulan, rasa sedih bertumpuk. Jadi, gw memutuskan, "Lo bukan sahabat gw lagi."

Gw gak bisa bertingkah biasa aja. Dingin. Jahat. Kejam. Lo pikir, kenapa? Karena gw marah? Karena gw benci?

Yang gw gak bisa pungkiri adalah, gw sedang menghindar dari rasa sakit hati. Gw lagi menghindar dari kesedihan. Jadi? Gw berlaku layaknya bajingan. Gw gak menghiraukan keberadaan lo, ucapan lo, candaan lo. Karena, what's the point? Ketika lo ninggalin gw lagi, luka gw akan semakin berdarah.

Jumat, 12 Mei 2017, gw baru sadar, bahwa gw mengubur kesedihan gw dalam-dalam. Malam itu, gw sadar gw begitu kehilangan. Gw rindu. Gw sakit. Gw butuh lo disamping gw.

Tapi, gw gak bisa. Tiap kita bertemu, kata-kata yang keluar dari mulut gw hanyalah sarkas, sindiran, atau bahkan gak ada sama sekali. Sahabat macam apa, yang bahkan gak bisa ngomong ke sahabat lainnya?

Gw gak bisa ngerti sekarang kenapa lo lebih milih menghabiskan seluruh waktu lo bareng dia. Mungkin suatu saat? Gw juga gak tau.

Makasih udah pernah mau jadi sahabat gw. Makasih udah meluk gw pas gw lagi butuh pelukan (meski gw selalu pura-pura gak mau). Makasih udah ngerawat gw pas sakit, bikin gw ketawa pas gw lagi nangis, selalu peduli kabar gw.

Maafkan karena gw bukan temen yang bisa tetep disamping lo ketika lo sedang bahagia.

Dulu Kita Berteman

"Lu tau gak sih, kalo orang udah sahabatan lebih dari 6 tahun, persahabatannya bakal survive sepanjang masa?" kata lo sore itu.

Gue ketawa dalam hati.

Sore itu lo ngontak. Bilang rindu. Sengaja, gue gak bales saat itu juga. Karena, apa yang harus gue ketik? Bilang rindu juga, bohong. Bales basa-basi, kesannya buka percakapan. Padahal gak mau buka percakapan sama lo. Tapi, kalo gak bales, kok kesannya bajingan amat.

Jadi, gue tulis pertanyaan yang netral. "Lo dimana?"

Lo bilang rindu. Lo nanya, apa gue juga? Lo menyatakan kok kayaknya gue nggak. Kalo gak kangen juga gapapa. Lo minta maaf karena lo berubah jadi cewek lembek.

"Gw rasa terakhir kali ketemu lo, kayaknya percakapan kita gak bagus."

Kepala gue berputar. Kita pernah berteman baik. Baik banget, malah. Ya, lo gak selalu ada buat gue. Waktu gue dibully sama anak-anak populer bajingan, lo pergi. Tapi, pikir otak polos ini, itu kan saat remaja.

Beberapa tahun kemudian, ketika lo yang kena gencet orang, gue berusaha terus ada di samping lo. Entah kenapa, gue rasa itu yang bikin persahabatan kita jadi kuat. Gue orang bajingan, blak-blakan yang gak gampang membuka diri pada orang lain. Lo orang yang lebih brengsek, lebih nyablak, namun lebih tertutup lagi pada sekitar. Rasanya kita seperti dua orang cewek anti mainstream yang gak cocok dengan dunia, yang suka hal berbeda, yang pikirannya lebih maju dari mereka si cewek-cewek cantik berbulu mata lentik yang suka memandang kita sebelah mata.

Haha. Kalo diinget lagi, kita sama naifnya dengan mereka. Tapi, betapa kita sombongnya, merasa kita lebih baik.

Bahkan ketika pisah sekolah, setiap bulan kita masih main. Masih catch up. Lo tau tentang hidup gue. Gue tau tentang hidup lo. Siapa temen baru masing-masing, apa yang disuka, apa yang gak disuka. Mengenal lo kayak mengenal telapak tangan sendiri. Lo berubah barang sedikit pun gue paham.

Gue rasa, penyebab kita dekat karena kita begitu similar. Selera musik, cara pikir, kosa kata, kesukaan buku, kesukaan belajar (yes, we both ARE nerd).

Entah kenapa, sejak masuk dunia perkuliahan, hubungan itu putus gitu aja. Padahal, jarak kita gak jauh-jauh amat. Kalo mau effort, ketemu sebulan sekali tetep bisa dilaksanakan. Tapi, kita mulai menjauh.

Hari terakhir gue ketemu sama lo, gue inget banget percakapan antara kita. Lo ngambek karena gue gak bisa dateng tepat waktu ketemuan sama lo, padahal lo tau betul gue abis pulang kerja, cari uang buat bayar kuliah. Gue pikir, baiklah, gak apa-apa, emang salah gue.

Namun, setelah itu, pembicaraan mengarah ke lo yang memojokkan. Karena pilihan gue untuk sibuk berorganisasi. Karena pilihan gue untuk kerja saat liburan. Karena pilihan baju gue. Karena gue masih aja jomblo, padahal umur udah 20. Karena ini, karena itu. Kritik, kritik, kritik.

Lo tau gak? Gue bukan orang yang pintar menyembunyikan emosi. Saat itu gue protes. Emang kenapa kalo gue berambisi buat jadi kepala divisi himpunan? Emang kenapa kalo pakaian gue sangat biasa? Emang kenapa kalo gue gak pake make up? Emang kenapa kalo gue jomblo?

Lo ketawa. Lo bilang, "Kita udah gede, Ting. Sampe kapan lo mau kayak gini terus?"

Itu menusuk sampai ke dalam sanubari.

Apa lo gak sadar, bahwa gue pun udah berubah? Gue bukan seorang Firliani Sarah yang lo kenal dulu. Gue punya prioritas di depan mata : anak sulung, kuliah negeri, harapan orang tua tinggi. Gue udah bukan cewek yang bisa digencet orang lagi. I can stand up for myself, gue bukan lagi cewek yang terpesona dengan cowok sebegitu gampangnya, definisi diri dari orang lain. Gue pun udah gede. Terus lo bilang sampe kapan gue mau bocah terus?

Detik itu, gue juga sadar bahwa lo pun udah berubah. Terlalu banyak. Saat gue mengaduk-ngaduk pisang bakar di depan muka, pikiran melanglang buana. Siapa sosok di hadapan gue ini?

Kalo lo gak bisa ngerti prioritas gue, kalo lo gak bisa ngerti pilihan gue, bahkan setelah gue jelasin, terus untuk kita tetep temenan? Kalo lo bahkan gak bisa dukung keputusan gue, kalo lo maunya marahin dan membuat gue hidup satu standar dengan lo, what's the point? Bukannya sahabat harusnya saling percaya, saling ingetin kalo salah, saling dukung, bukannya kejar-mengejar memenuhi standar yang lainnya?

Malam itu, gue naik angkot, pulang. Otak dengan cepat memutuskan. Kita sudah bukan sahabat. Kenalan, mungkin. Temen TK. Temen SD. Temen SMP. Sobat SMA. Sekarang? Jelas nggak.

Tapi, gak apa-apa. Gue berubah. Lo berubah. Didikan orang tua, temen-temen sekitar, membentuk kita.

Gue kira, meski kita berbeda, kita tetap bisa bersahabat. Tapi, ternyata nggak. Menurut gue, sahabat itu saling mengingatkan, saling menasihati, tapi bukan saling memojokkan, lalu melempar komentar passive-aggressive. Karena, kalo itu yang lo lakuin, berarti ada jarak di antara kita. Dan, kalo iya, berarti apa definisi hubungan kita?

Senin, 06 Februari 2017

Ah, Aku Ini

Sebenernya udah berapa lama ya aku menjauhi tatapanmu? Aku gak ingat jelas. Tapi rasanya menyakitkan, walau memudahkan.

Setiap kali kita bicara, kulempar pandangan ke keningmu, manusia sebelahmu, gerakan di belakangmu. "Jangan lihat matanya," otakku memerintah, dan aku mematuhi.

Apalagi ketika kamu menjauh. Itu membuat usaha jauh lebih mudah. "YES! Dia pergi!" batin berteriak gembira, meski hati menangis karena dibuat patah. Ya, tapi, apa mau dikata. Aku tau ini semua untuk menghindari rasa sakit yang lebih parah.

Sampai hari itu.

Ketika dengan bodohnya aku menuruti keinginan. Ketika aku merasakan tatapanmu ke wajahku. Ketika aku membiarkan logika. Ketika dengan tololnya aku mengacuhkan perintah kepalaku untuk tidak melaksanakannya. Ketika aku tidak mampu menghindar barang sedetik.

Jadi kutatap matamu.

Awalnya biasa. Detik berlalu, kemudian semuanya kembali. Semua perasaan yang sudah kubuang ke recycle bin otak, menuju ke tempat semula. Seluruh pikiran tentang kamu yang kukunci dalam peti hati rapat-rapat, berhamburan keluar. Segalanya menghantam.

Aku tidak bisa berpaling.

Menit itu, dalam pandangan itu, aku paham kamu tidak akan sadar. Kamu tidak akan memiliki perasaan apapun untuk aku. Aku tahu. Tapi, aku tidak bisa mencegah.

Dengan bangga, beberapa minggu yang lalu aku menyatakan diri aku bebas dari pikat kamu (setelah tangisan yang begitu mengerikan, tentunya). Ternyata, gak juga. Ketika mataku terkunci sama kamu, semua kembali.

Sialan.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Jatuh pada Masa Lalu

It's really unexpected to see your face today.

I've been searching, asking for your presence these last many weeks. Nevertheless, you were gone, without any trace. I couldn't see you. I couldn't ask what were you doing yesterday, or the day before that, or the day before that.

After you said what you really think about us, I cried my eyes out. I was being that girl in the cliche romantic film we always mocked every time we had the chance. When I listened to our song. Or when I remembered about our last conversation. Or when anyone asked me about you.

I feel stupid, then I met you.

You didn't act like there were something wrong. And I tried to keep up. Seriously, I tried. But I can't. I couldn't hold myself to see the real you. Different you. Different person. I don't know who you are. It made me ask. If I don't even know you now, how can I be still in love with you? We talked. I realized you don't who I am now either.

So what am I crying about? Who am I falling in love with? You, or past you?

Minggu, 18 September 2016

Kembang Api Tahun Baru

We were with our friends, but you sped up your vehicle, left them alone. Making us, only us.

We were walking, trying to get a perfect spot for watching the fireworks. The new year. The last year we were gonna be together, since we both didn't know where we were gonna be next year. I asked about our friends, you just shrugged, didn't care. Was it because you wanted the alone time, me and you? I don't know. I didn't ask.

We were talking. About you. About me. About us. About the future. About the dreams, the much, much further days. By now, I know our dreams are not coming true. But that's okay. We are doing something much interesting, towards different targets, different tomorrow.

We were sitting. Suddenly, you grabbed my arm and pulled me into the crowd. I protested, but you insisted. I didn't know you were going to the place where we could see the sky better.

We were standing there. The fireworks launched into the sky. You tried to record the moment in your gadget. I watched the firework in the screen of your cell. You looked at me, then pulled it down.

"Let's enjoy the moment."

We were standing there, in the center of the crowd, with a lot of people. Yet, somehow, it felt like we were alone. Looking at the fireworks, like two stupid people, not a word said. You, beside me.

At that time, I was sure. Of course next new year, I would be with you. I mean, why wouldn't we? We through a lot of hard, exhausting times. And we survived! I didn't care what people said, I didn't care for their warning. We are us. I know us. Or so I thought.

After the show, we talked. A lot. Even a promise was said. "We will meet again."

Next two new years, I was alone in my room. I was too lazy to go anywhere, even though my new friends asked to see the fireworks. I simply didn't want to. I didn't want to feel your presence there, thinking about my stupidity.

Not two months after that freaky new year, you left me. For another, more caring woman. Shattered my heart that easily.

So.

Jumat, 10 Juni 2016

Kegelapan Apa Sih?

Sekarang gw ada di akhir semester 4, titik dimana semua mahasiswa terduduk, termenung, membatin selama berhari-hari : “Gw ini mau kemana sih?”

Yang goblok kayak gw, yang IPnya mati segan hidup tak mau, bertanya dalam hati :
“Gw bisa survive dunia kerja apa nggak?”
“Gw bakalan ngapain nanti, 2 tahun ke depan?”
“Sebenernya gw mau jadi apa, sih?”
“Kenapa usaha gw gak juga berbuah hasil?”
“Bisa-bisanya nilai gw begini, padahal orang tua gw udah mengusahakan yang terbaik?”
“Yang gw lakukan sekarang, bergunakah nanti?”

Kalo lo melontarkan pertanyaan yang sama kayak gw... lo gak akan menemukan jawabannya disini. Gw bahkan gak punya hak untuk nasehatin lo buat tetep kuat, tetep percaya, tetep yakin, atau motivasi-motivasi lainnya. Level kita sama, brah.

Gw cuma mau ngasih tau, lo gak sendiri. Pertanyaan itu bukan cuma muncul di kepala lo, tapi di kepala temen-temen lo. Bahkan si ‘straight As’ alias transkripnya A semua. Dia juga wonder tentang sesuatu. Jadi, ini semua WAJAR.

Lo gak sendiri. Gw juga takut ketika masa depan gw segelap kampus lagi mati lampu. Gw takut bertemu horornya kehidupan, jatoh terguling-guling sampe berdarah sampe gak bisa bangkit.
Namun, yang gw sadari adalah : gw gak sempurna. Gw tau gw udah usaha sekuat tenaga, gw berusaha tetep di jalan lurus (meski kadang suka ‘menikung’). Menghajar mental diri sendiri, fokus pada yang salah gak akan mengubah semuanya.

Hati cuma berharap, semoga nanti, ketika gw udah beneran dewasa, semua sudah baik-baik saja, gw bertanya-tanya dalam hati, ‘Ngapain ya dulu gw khawatir?”

Source : 9GAG (takut kena masalah sitasi)

Senin, 06 Juni 2016

Aku Harus Disini?

Bangun siang tidur pagi. Kegiatan anak sok sibuk organisasi macam gw.

Gw ngeliat jam HP. Jam 6 pagi. Gw duduk, gosok-gosok mata. Kenapa gw kebangun? Gw inget gw baru tidur setelah gw subuh.

Terus gw denger suara orang di ruang keluarga.

Watdehel. Indi dan Adis udah balik ke Jakarta, hence gw sendirian di kontrakan. Jangan-jangan ada yang masuk rumah?? Gw bangun, nyalain lampu kamar. Itu suara gw kenal, dua orang.

Gw buka pintu. Nyokap bokap gw lagi duduk di ruang tamu, sambil makan martabak.

"Lho," gw kata. "Mama Papa ngapain disini?"
"Kan mau puasa," jawab emak gw. "Masa kamu puasa sendirian di Surabaya?"
"Dedek gimana?"
"Ya dia mah kuliah."

Gw langsung meluk emak gw. "Ih, kok gak bilang-bilang sih mau kesini?" gw nyalain TV, terus nonton berita. Akhirnya TV gw bener juga. Gw ngobrol sama orang tua gw, ketawa-tawa, terus berencana mau pergi keliling Surabaya.

"Kamu mandi dulu, gih, bau," kata nyokap gw.
"Makanya, Kak, jangan jadi tikus kampus," ujar bokap. Itu istilah yang dia pake buat mahasiswa yang kerjannya seharian di kampus, gak inget rumah dan tugas. Gw meringis. Gw jarang nelpon orang tua gw karena alasan pulsa dan jadwal sibuk. Tapi, alasan sebenernya adalah gw gak bisa menahan diri untuk gak rindu sama rumah, keluarga gw, setiap kali nelpon. Setiap gw denger suara mereka, rongga kosong di dada makin berasa.

Alarm HP bunyi.

Gw kebangun. Gw di kamar, tidur, bukan sama orang tua gw. Yang pertama gw liat meja belajar. Gw langsung terduduk sampe pusing, nyamber HP. Jam 8 pagi.

Gw keluar kamar. Kosong. TVnya mati. TV kontrakan emang rusak beberapa minggu ini. Ruang tamu udah terang, tapi gak ada siapa-siap disana, cuma gw sendirian, sedang merindukan.

Terus gw nangis gak terkontrol.

Minggu, 27 Maret 2016

Cowok dan Cewek Gak Bakalan Bisa Berteman (tanda tanya)

Sewaktu jaman gw SMP, gw bener bener jatuh cinta banget sama Detektip Conan. Literally 90% waktu kosong gw buat nonton semua animenya, baca semua komiknya, download filmnya, ikutin OVAnya, ganti nama gw jadi Edogawa Firli (iya, gw emang alay, dan bahkan masih pake nama itu di seluruh sosmed gw kecuali fb, but I didn't regret it, folks), foto gw gambar Conan. Gila deh gw pokoknya.

Terus, gw ketemu salah seorang cowok di fesbuk. Tenang, ini bukan cerita kopdar kok.

Namanya... gw lupa siapa. Anggep aja namanya Gelas. Nah, si Gelas sama gw sering chat tentang Conan. Ternyata kita cocok. Jadi ngobrol yang laen : genre detektip, rekomen komik, lagu, daily lives, gebetan dia, cerita sekolah gw, dkk. Umur kita beda setahun. Dia selalu manggil gw 'Kakek' karena gw mikir kayak kakek-kakek (ya, dia emang tai) dan gw manggil dia 'Om' karena menurut gw muka dia kayak om-om. Kita berteman via chat kira-kira setahunan.

Suatu hari, dia nanya sama  gw, "Eh, Kek, lu cowok kan?"
"Hah? Kagak lah, gw cewek bego."
Gw gak tau dia dapet kesimpulan itu dari mana, tapi emang sih nama gw kan bukan nama asli (ada Sarahnya ya gamungkin dia kira cowok) dan foto gw pun bukan foto gw. Gw ngambil kesimpulan dari kata-kata gw yang terlalu... gak cewek dan keseringan gw buat mengumpat. Haha.

Dia gak bales lamaaaaa banget, sampe sejam kemudian baru dia bilang.
"Aneh banget ya ternyata lo cewek. Gw kira lo cowok, sumpah."
Gw bales sambil mengernyit, "Lah, terus emang kenapa? Masalah emang?"
"Nggak sih."

Dia lalu ngalihin topik, tapi kemudian hilang. Gak pernah chat lagi. Selama ini emang selalu doi yang mulai duluan. Ketika gw akhirnya memutuskan untuk mengontak dia, dia gak bales.

Gw akhirnya nanya ke Fira, kenapa dia gak mau bales chat gw. Maksudnya... gw ngerasa nyambung aja gitu ngobrol sama si Gelas. Bukan dalam konteks romantis, tapi kan kesukaan sama dan umur juga gak beda jauh.

"Mungkin dia takut lu suka sama dia, kali, Ting," kata Fira.
"Lah tapi kan gw gak suka sama dia," gw bales. "Lagian emang pernah gw mengindikasikan konteks romantis? Emang pernah gw peka, sensi, atau gimana sama dia? Kan nggak."
"Ya gua kaga tau, Ting, kok lu marah ke gua dah," Fira ngegetok gw.

Setiap gw deket sama cowok, mana aja, pasti beberapa minggu dibilang, "Cie, lu ada apa Ting sama dia?" "Jadi kamu sama dia, Sar?" padahal gak ngapa-ngapain sumpah. Ini nih nasib tukang nebeng motor orang, menclak menclok kemana aja yang penting dapet jok belakang-_- maapin ue guys.

Gw selalu percaya kalo cowok dan cewek pasti bisa berteman. Bukti nyatanya ya gw. Gw punya banyak, banyak banget temen cowok, yang suka makan berdua, jalan, belajar, ngobrol ngalor ngidul, sekedar belanja di supermarket, tanpa ada maksud apa-apa, ya kita emang suka aja berteman dan ngobrol.

Sebuah hubungan, antara cewek-cowok, kalo emang gamau berakhir hanya 'sekedar teman', ya jangan dimulai dengan berteman. Endingnya lo yang sakit sendiri. Kalo udah tau dia spouse-material,  PDKT lah, jangan temenan aja. "Tapi gw gak mau kehilangan dia sebagai teman..." berarti itu resiko Anda. Misteri itu bakal melayang di antara hubungan kalian sampe lo mencoba. Pada akhirnya, sebuah pihak akan merasakan sakit hatinya. Better if you fastened the process.

Menurut lo, cowok dan cewek bisa berteman atau nggak?

Rabu, 02 Maret 2016

Slap across My Face

Salah satu dosen yang gue kagumi di Jurusan Teknik Industri ITS adalah Dr. Maria Anityasari, ST., ME. Waktu semester satu, gw diajar oleh beliau di mata kuliah Pengantar Teknik dan Sistem Industri. Di semester ini, gw diajar lagi oleh beliau di mata kuliah Ekologi Industri.

What makes her so cool is how she could plant her words in your head. Kata-kata itu terus bercokol dalam batin, bikin lo pada saat itu merinding. Entah itu materi matkulnya (yea, gw jatuh cinta sepenuhnya pada keilmuan TI setelah ambil matkul PTSI and literally feel scared setelah tahu kenyataan di lingkungan yang ada), atau motivasi yang diberikan kita, para mahasiswa yang suka kehilangan arah.

Tetapi, pelajaran hari ini bener-bener luar biasa, mengingat kelasnya yang biasa gak seperti pada umumnya.

Beliau masuk ke dalam kelas. She looked kinda upset, gw takut dia lagi bad mood, dan gw baru sadar kalo gw gak bawa buku tulis Ekologi gw yang berisi jawaban study guide pada hari itu-_-

Gw udah panik, tapi setelah duduk dia malah bilang, "Guys, gimana kalo hari ini kita nyanyi? Gak pernah kan kelas nyanyi?"

Seluruh kelas tertawa. Bu Maria lalu membicarakan soal pentingnya keaktifan di kelas dan masuk ke materi ekologi. Setelah kira-kira materi udah dibahas, beliau nunjukkin video ini.


Setelah video itu, Bu Maria berkata, "Guys, our country is very, very rich. Video yang tadi kita saksikan bukanlah sesuatu yang baru buat kita. Bahkan mass media pun sudah memberitahukan apa yang terjadi di Papua sana. Betapa kayanya negara kita, Yuk kita nyanyi lagu Indonesia Pusaka!"

Menyanyilah kita. Lalu beliau bertanya, "Kenapa negara kita dipuja-puja bangsa?"

A lot of answers come, lalu beliau respon. "Benar. Karena negara kita sangat kaya."

Kami nyanyi lagi lagu Kolam Susu dan Kulihat Ibu Pertiwi.

Kita tertawa. Gw gatau kenapa. Somehow ada aja yang lucu. Lalu,beliau angkat bicara. Kelas hening seketika.

"Hari ini, saya ditanyai. 'Bu, tau si A gak, Bu?' 'Ohiya tau, dia kan cerdas sekali!' 'Iya, dia dapet beasiswa di Taiwan, terus gak mau balik lagi kesini...'

"Saya kaget sekali. Saya lalu bertanya, 'Memangnya ada apa? Kenapa dia gak kembali?'"

Bu Maria duduk di kursinya, wajahnya pias. Suaranya tercekat. "Ternyata, dia gak kembali karena di Indonesia itu gak enak. Lebih enak hidup di Taiwan. Uangnya lebih banyak.

"Guys, jangan lupakan kalau hidup kita punya tujuan. Jangan kamu  kuliah hanya untuk selembar ijazah. Jangan kamu bekerja hanya untuk uang semata. Jangan kamu menolak untuk berkorban demi kebaikan bersama. Jangan kami degradasi hidupmu untuk sesuatu yang tidak tetap dan fana."

Seluruh kelas speechless

Lo pernah gak sih berasa ditampar oleh kata-kata? Gw udah pernah mengalaminya beberapa kali, dan hari ini gw mengalaminya lagi. Rasa nasionalisme gw diguncang. Selama ini, gw cuma berpikir : "Abis kuliah, gw bakal langsung kerja, cari uang yang banyak." Bahkan gw berpikir buat kerja di perusahaan multi-nasional, atau perusahaan oil and gas, mungkin bisa keluar negeri.

Tetapi, setelah apa yang dikatakan Bu Maria... lah, gw belum ngasih apapun ke negara ini. Padahal, uang semester gw murah itu dari negara ini. Bokap gw pake BPJS, itu dari negara ini. Subsidi-subsidi ini-itu, dikasih oleh negara ini, untuk gw, rakyatnya yang belum ngasih apa-apa.

Tulisan ini gw tulis bukan untuk menyadarkan siapapun. Gw bukan orang keren yang bisa memaku huruf-huruf yang keluar dari mulut ke otak sedalam-dalamnya. Gw menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri, one day, ketika gw lupa, hari ini pernah terjadi. Hari ketika gw merinding menyadari gw takut untuk berkorban. Hari ketika gw ditampar di wajah karena berani-beraninya berniat meninggalkan Indonesia tanpa memberikan apa-apa.

Minggu, 31 Januari 2016

Pepatah Bodoh

Gw gak pernah percaya kalimat kedua gambar di bawah ini ini.
Gw selalu ketawa. Tapi gw gak merasa bahwa gw ketawa karena gw sedih. Gw gak pernah merasa senyum yang gw keluarin karena gw orang paling merana yang ada dunia ini. Menurut gw, gambar di atas cuma excuse aja. Kata-kata bohong dari mereka, seakan mereka kuat, terus pengen nunjukkin kalo mereka baik-baik aja. Kode sampah.

Lo pernah gak merasa gak berguna?

Semua masalah yang ada itu terjadi karena lo ada. Tapi, lo dilarang melakukan apa-apa. Dan gak bisa pula. Ada prioritas lain yang lebih penting. Pendidikan. Masa depan. Padahal itu semua membuat keadaan ricuh.

Dan lo cuma bisa melongo dengan tangan terikat keadaan, gak tau harus ngapain.

Gw lagi iseng-iseng buka folder gambar gw, dan muncul tiba tiba gambar di atas. Gw berpikir. Gimana bisa orang yang paling sedih di dunia tersenyum paling cerah? Karena gw gak bisa tersenyum sekarang. Senyumnya palsu, kaku, gak bebas.

Rabu, 30 Desember 2015

Ketika OTI dan Prosman Bersatu untuk Menghancurkan Kita Semua

Omigeee, this freaking semester is going to end!!!!!!

FYI, semester 3 adalah semester yang paling gila di TI ITS, selain semester 6. Kenapa? KARENA SEMUA MATA KULIAHNYA MEMILIKI BANYAK SEKALI PRAKTIKUM DAN TUGAS BESAR.

"Goblok dah lu, itu kan wajar buat anak kuliah!" Oh, tentu tidak, sodara-sodara. Emang biasanya sibuk, tapi ini lebih parah dibanding semester-semester lainnya. Apalagi semester ini baru angkatan gw yang rasain matkulnya setelah di ekivalensi. Ada...

1. OTI
Otomasi Industri. Jujur gw suka banget pelajaran ini. Lu belajar tentang penggunaan otomasi (sebuah sistem dimana semua serba otomatis) yang diaplikasikan ke dunia industri pastinya (yaiyala gw anak TI). Nah, di mata kuliah ini, gw harus ngebikin prototipe otomasi tersebut. DAN ITU TIDAK MUDAH KAPTEN!!!

Lu harus riset harga barang, harus desain, harus liat apa yang dibutuhin masyarakat. Gw banyak dibantu sih sama jurusan sebelah, secara gw kurang paham mesin sama programming haha, tapi tetep aja yak muter otaknya susah dan keluar uang banyak. Lu harus bolak-balik konsultasi dan ke asisten lab, takutnya salah. Belom lagi paper yang ada 4 judul. Oh. Mai. Gat.

2. Prosman
Proses Manufaktur. Easy to guess, ya, ngebahas segala proses yang ada di dunia industri. Ini juga salah satu mata kuliah favorit gw. Tapi, praktikumnya ada tiga, berarti ada tiga modul dan tiga laporan individu dan enam kali asistensi. Belom kalo alatnya rusak. Bahkan suatu kali gw pernah gak tidur karena ngerjain modul. EH gak suatu kali deng. Tapi TIAP HARI KAMIS KE JUMAT (deadline-nya Jumat soalnya wkwk).

3. ANBI
Alias Analisis dan Estimasi Biaya. Gw juga jatuh cinta sama pelajaran ini. Itungan biasa lah tambah-tambahan kali-kalian, pelajaran akuntansi namanya kalo di SMA, tapi gw sampe ke tingkat manajerial (kalo gak paham silahkan cari bukunya Warren Reeve Duhac tentang akuntansi, that book is freaking cool!). Tubesnya lagi lagi lu harus ke UKM sekitar dan ngejar ngejar mereka, minta data keuangan, bahkan nyusun bonnya. Bikin pinter sih, tapi bikin exhausted juga. Terus, ada juga responsi tiap minggu. Kayak latihan di kelas gitu lah.

4. Ergo
Ergonomi Industri. Hah, apaan tuh Ergonomi? Intinya sih mempelajari gimana ya manusia biar aman dan nyaman dalam melakukan kerja (karena aman sekali berarti tidak nyaman dan nyaman sangat berarti tidak aman).  Praktikumnya ada LIMA!!! YEAAAAAAAA!

Praktikum lima kali berarti modulnya pun lima, dengan lima kali asistensi dan percetakan all module yang super ribet (sampe detik ini modul gw sudah mencapai 200 halaman). Belom lagi tugas besar di akhir semester dan tugas kecil tiap minggunya. Yaudah gw mah narik napas aja.

5. Matop
Gw gak ngerti lagi sama mata kuliah satu ini. Ini gak bikin lu sibuk tapi nilai gw kebakaran semua di mata kuliah satu ini. Pelajarannya full sama matriks. Gw nyesel dulu gak dengerin Bu Sopi pas lagi ngajar :(

6. Statistik Industri II
Salah satu mata kuliah favorit gw juga. Dosennya paling kece sedunia, namanya Pak Erwin Widodo. Dewa dia pokoknya, mengubah yang bego ileran jadi ngerti luar biasah. Tapi tetep aja, mata kuliah ini, kalo gak diulang di kamar, bisa lupa sampe mokat. Seperti biasa, ada tubesnya juga haha.


Overall, ini semester dimana gw banyak sekali tidak tidurnya. Sosoan ya, padahal baru semester 3. Tapi, pas gw lagi nganggur gini, gw malah heran kok gw bisa nganggur...

Minggu, 29 November 2015

Menjadi Lebih Kuat

Ketika mengalami patah hati yang pertama kali… gimana rasanya?

Bukan pertama kali gw jatuh cinta. Waktu itu gw udah 17 tahun, wajar kalo gw pernah punya crush.
Ini bukan cerita yang luar biasa. Cuma seorang cewek yang naksir sama seorang cowok. 

Yang membuat gw kaget adalah betapa cepatnya rasa sayang itu tumbuh. Bahkan, gw bisa mendeklarasi gw jatuh cinta dalam waktu yang sebentar. Lalu, rasa itu membengkak, membesar. Gw gak pernah merasakan ini. Selalu berusaha rapi di deket dia. Deg-degan tiap mata nangkep bahkan bayannganya aja. Mampu mengingat tiap patah kata yang keluar dari mulutnya. Padahal, dia bukan tipe cowok yang biasanya menarik perhatian gw. Dia gak terlalu cerdas, lawakannya rasis dan jayus, sensitif, dan tipe-tipe sarkas gagal. Namun, dia mencurahkan sesuatu ke gw, yang gak bisa gw tolak. Gw terpikat.

Dia tiba-tiba mematahkan. Gw gak sadar dia masang bom yang, ketika akan meledak, bakal bikin seluruh perasaan gw jadinya hanya tinggal serpihan. Dan, seperti yang bisa ditebak, dia tekan pemicunya. Serpihan-serpihan itu kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Menyakiti, menusuk, merusak. 

Gw nangis. Kejer banget. Kenapa gw begitu tolol? Gw selalu menganggap diri gw kuat, jadinya hal-hal macam asmara gak akan menghancurkan, karena gw pikir, apaan sih, gw masih bocah, tau apaan soal cinta? Tapi, karena dia, gw jadi tau. Kalo cinta gak dari dua arah, apalagi malah sambil menembakkan rasa sakit ke arah kita, sekuat apapun diri, setebal apapun tameng, gak bakalan mampu buat tetap berdiri tegak dan menghadapi dunia.

Ada masa-masa dimana gw cuma bisa natap dinding terus nangis. Masa-masa gw kabur dari lingkungan pertemanan gw, karena, to be honest, it reminded me of him, and I can’t stand it. Gw berusaha bangkit, tapi gak bisa.

Gw ambil beberapa tindakan ekstrim. Beberapa langkah yang gak bisa gw ceritain, karena… yah, gitu.

Yang paling mengejutkan adalah, gw sembuh. Total. Rasa-rasa sakit itu gak berbekas lagi. Pas gw menyadarinya... wow. I am okay now.

Tetapi, gw jadi sulit buat ‘jatuh’ pada seseorang lagi. Bukannya gw berubah arah orientasi. Ya ngelirik cowok ganteng mah masih, mwahaha. A little crush to some guy, I guess I still. Namun gw paham, ini bukan waktunya. Ini adalah waktu untuk belajar, mengetes batas diri, bermain, berkenalan, berteman sebanyak-banyaknya, mencoba hal-hal baru, menambah pengalaman. Tapi bukan waktunya untuk mencintai, dicintai, apalagi mencari cinta. Masih terlalu jauh.

Sekarang, kami gak pernah ngobrol lagi. Terkadang, ketika kami bertemu, sengaja atau gak sengaja, gw pengen tanya. Kenapa dia dulu memutuskan untuk menekan pemicu bom itu? Alasan apa sih sebenernya? Apakah itu salah gw? Tetapi, seringnya pengeeen banget bilang makasih, karena kerusakan yang dia buat membuat gw mampu membangun pondasi hidup gw jadi lebih kuat dan fokus ke hal-hal yang benar di waktu yang tepat.

Buat lo yang lagi patah hati, gw punya sebuah kalimat klise, tapi bener-bener terjadi. Obat untuk yang lo rasain sekarang hanya satu : waktu. Udah. Itu doang. Jangan ngerasa loser karena belom bisa move on. Cause it’s okay. Time do heal. Tomorrow will arrive.
 
 

Jumat, 20 November 2015

Mimpi

DI suatu malam, gw bermimpi lagi di rumah, abis diomelin sama Bokap. Gw lupa kenapa diomelinnya. Yang jelas, jalanan berasa gw kenal, dan orang-orang yang mustahil muncul depan rumah gw ada di mimpi tersebut (alias temen-temen ITS gw haha).

Pas gw bangun, gw ngeliat meja belajar gw. Gw lagi di kontrakan gw, di Surabaya. Terus, gw sadar ternyata rumah gw ratusan kilometer jauhnya.

Tiba-tiba gw wonder kok bisa bisanya gw terdampar di Surabaya. Padahal udah setahun lebih gw disini-_-

Pengen pulang :(

Selasa, 10 November 2015

Commitment Issue

To be honest, gw gak sadar gw punya isu ini. Barusan aja.

Dua hari ke belakang, gw gak keluar rumah gara-gara ketagihan nonton drama Korea. Sampe-sampe gw diledekin Indi (karena dia suka Korea pake banget) karena kerjaannya nonton mulu. Ya sebenernya selalu nonton sih, tapi kan tumbenan nonton Korea. Spesifiknya, Pinocchio.

Banyak banget adegan romantis tapi kocaknya, bikin gw jadi pengen punya pacar, cepet-cepet ketemu jodoh gitu. Jadi, GW GAK MENYARANKAN KALIAN BUAT NONTON DRAMA INI KETIKA LAGI SENDIRIAN DAN MENYESALI KEADAAN JOMBLO.

Oke.

Terus gw sadar gitu. Jika, dan hanya jika, gw ketemu jodoh gw, terus nikah. Gw gak pernah pacaran sebelumnya, jadi gw gak tau perasaan seperti apa yang nanti gw bakal punya. Tapi... yang jelas gw gak akan pernah sendiri lagi. Gw akan selalu BERDUA.

Beda dengan sekarang. Bahkan meski gw tinggal sama orang tua gw, misalnya, gw masih bisa sendiri. Tapi kalo gw udah nikah, atau punya pacar deh, gw harus mikirin dia, taku dia mikir gw kenapa-napa.

Terus gw serem sendiri.

Awalnya gw pikir rasa takut ini wajar. Tapi, pas gw menceritakan apa yang gw pikirin ke Dariant sama Alwi tadi, mereka malah ngeliat gw aneh.

"Lah, ntar kan pas kamu kerja kamu bisa sendirian," kata Dariant.
"Ya kan tapi ada temen kerjanya dong pasti. Setiap saat kamu selalu bersama orang lain. Di rumah pun nanti bakal ada orang lain."
"Bukan orang lain lah, Sar, namanya," Alwi natap gw sambil ngernyit. "Kan itu jodohmu."

Setelah berdebat singkat, akhirnya gw ngalah. Dariant emang lagi dalam proses mencari wanita pujaan, dan Alwi bisa dikata lagi punya cewek.

Lah iya sih gw masih 19 tahun. Tapi, asli, rasa takut bersama orang lain, seumur hidup gw, sampe nanti, sampe tua, bikin perut bergejolak dan dada berdebar. Prospek jodoh emang masi jauh, tapi mikirinnya sekarang bikin scare.

Gw pikir, isu komitmen itu cuma bullshit. Gw sering liat commitment issue dijadiin alasan buat orang putus di banyak sitkom yang gw tonton, tapi itu semua sitkom luar. Selama ini, gw kira itu gak bakal terjadi di dunia nyata, at least not in Indonesia. Tapi, itu perasaan yang gw sekarang punya. Ketika ada yang mendekati gw ke arah asmara pun, gw langsung terbirit-birit kabur. Gak mundur teratur, lho, ya. Namun gw betul betul menjauh dari orang tersebut.

Apakah ini hanya terjadi pada orang-orang muda? Umur gw kan belum juga 20. Tetapi, cewek-cewek sekitar gw lagi pada deg-degan, mencari setengah jiwa mereka, membayangan kehidupan dewasa mereka nanti, kenapa gw malah tenggelam dalam histeria gw sendiri? Milih buat bersenang-senang, cari temen sebanyak-banyaknya, kabur ketika ada yang mau lebih? Seriously, what is wrong with me?!

Rabu, 14 Oktober 2015

Apa Itu Kelas Q

Sebenernya, gw gak kepikiran buat bahas ini sampe beberapa menit yang lalu gw nonton sebuah serial berjudul 'Kelas Internasional' di NET. Kelas Internasionalnya bener bener internasional, dari berbagai suku bangsa deh pokoknya.

Nah, udah 2 semester lebih gw bergabung di kelas Q di Jurusan Teknik Industri ITS. Kalo buat orang di luar jurusan, pasti langsung ngernyit. Apa itu kelas Q?

Akhir semester 2 barengan sama Agathe. Doi dari Prancis lagi ikut program pertukaran pelajar. Dia lagi ambil master, lho.

Abis presentasi Statistik Industri I. Foto bareng dosen paling kece se ITS raya, Pak Erwin Widodo
Kelas Q itu sama aja kayak kelas yang laen, tapi delivery pelajaran, pengerjaan soal dan tugas besar, percakapan, apapun itu selama aktivitas dalam kelas, pake bahasa Inggris. Kenapa namanya kelas Q? Karena kata pak YP emang dicari hurup yang jauh dari A, B, dan C (in case nanti kelas di TI jadi buanyak). Jadi gak ada maknanya. Gak seru ye.

Ada beberapa hal yang cuma bakalan gw dapet di kelas Q :
1. Hampir gak mungkin dapet dosen crap...
... karena dosennya harus bisa bahasa Inggris. Kalo kata senior, jarang biasanya dosen dosen yang suka ngasih nilai random, jarang masuk, atau gak bisa ngejelasin, itu lancara berbahasa Inggris. Nilai bisa dibilang aman (kecuali dosennya dari luar jurusan, haha)

2. Jadi gak gagap lagi pake bahasa Inggris
Awalnya, pas bikin tugas besar Pengantar Ilmu Ekonomi, tiap 3 detik gw buka gugel translate buat cari sinonim kata bahasa Inggris. Sekarang.... ya tiap 30 detik lah :))

At least, it is getting better. Bicara juga lebih fluent dan pede, sih. Ilmu grammar meningkat, dan gak scare lagi buat baca buku referensi keren anak engineering yang notabene hampir semua belom diterjemahin ke bahasa Indonesia-_-

3. Ketemu banyak temen dari luar negeri
Tiap ada anak exchange, pasti ditaronya di kelas Q. Udah jadi kewajiban sosial lah ya kita ngobrol-ngobrol. Seru banget bisa tau budaya, dan gw jadi gak norak lagi kalo ketemu bule, wahahaha. Dan ternyata gw menarik perhatian mereka karena mereka pikir gw berasal India.
Kata bapak di Medokan Semampir, gw kayak orang Timur. Ejek bocah yg gw ajar di program HMTI, "Kakak Ambon!". Kata temen sekelas dari luar, gw kayak orang India. Wat de dem hel?!

Selain tau budaya...

4. Gw jadi tau kalo PENDIDIKAN DI INDONESIA ITU BOBROK
Sumpah sakit.

Pas perpisahan sama Agathe, gw nanya, kira-kira gini, "Jadi gimana nih pandanganmu terakhir buat Indonesia?"
Dia ngeringis. "Well, yang pasti aku gak bakal kangen."
Gw kaget lah. Untuk ukuran mereka, itu kata-kata yang gak sopan ke tuan rumah. "Kenapa? Kamu gak mau balik lagi ke Indonesia?" gw nanya.
"Yah, mungkin aku akan balik untuk liburan, Bali is great. Surabaya juga, meski panas," dia bilang sambil ketawa. "Tapi, aku gak mau belajar lagi disini. Aku juga gak akan rekomendasi teman-temanku buat belajar disini, sepertinya."

Oke, jadi gw ceritain dari awal. Kasusnya adalah Agatha, bersamaan dengan kelas gw, ngambil satu mata kuliah, sebut aja mata kuliah Terang Bulan. Nah, dosen TerBul ini emang bukan dari jurusan gw, jadi gak bisa diharepin untuk bagus banget bahasa Inggrisnya.

Tapi, sayangnya dosen TerBul gw bahkan gak berusaha. Dia juga bisa dibilang gak ngajar. Doi mindahin jadwal seenak jidat. Soal yang dikasih gampang sebenernya untuk ujian, tapi apa guna soal mudah kalo kita gak ngerti? Ya kecuali untuk yang emang pinter.

Mungkin kata-kata gw agak subjektif, karena gw gak suka sama dosen TerBul gw. Begitu juga Agathe. Dia kena kasus karena jadwal UAS tiba tiba dimajuin dosen 2 minggu sebelum jadwal, padahal Agathe lagi vacation dan udah izin ke doi.

Keadaan mayan chaos, apalagi di kantor yang ngelayanin student exchange seperti Agathe. Tapi akhirnya beres. Meski gw gak tau akhirnya dia lulus mata kuliah TerBul atau nggak, tapi itu jadi pengalaman yang buruk buat Agathe.

"Di negaraku, semua rencana belajar sudah diberitahu di minggu pertama pertemuan dan tidak akan ada perubahan mendadak. Semuanya rapi. Dosen dan mahasiswa saling menghargai dan harus mematuhi rencana tersebut. Tidak seperti di Indonesia," jelas dia kala itu ke gw dan Hana.

Baru beberapa minggu yang lalu, Nathan, seorang mahasiswa dari UTeM yang lagi belajar di kelas Otomasi Industri gw, bilang, "Gimana cara kamu bisa survive di kehidupan perkuliahan?"

Gw ngernyit. "Maksud kamu gimana?"
"Iya, gimana kamu bisa istirahat? Apa kalian orang Indonesia tidak pernah beristirahat dengan tugas besar, praktikum, paper, dan laporan sebanyak itu? Di kampusku, nilai diambil dari UTS dan UAS saja. Ya, kami ada praktikum, tapi tidak menyita banyak waktu seperti yang kualami disini."
Gw ketawa sok kece. "I guess we rest at the weekend," gw jawab. Padahal pada saat itu gw udah 2 minggu cuma tidur 4 - 5 jam demi kerjain tugas. Meski weekend.

Mungkin ini bisa jadi teguran keras.





Jumat, 09 Oktober 2015

What a week

Literally the busiest week of my life.

Mungkin yang lebih sibuk bakalan dateng minggu depan, tapi sampe saat ini gw baru ngerasain kehidupan perkuliahan yang sebenarnya. Sebagai anak himpunan dan orang yang lagi ngejar ketertinggalan dalam akademik, gw hampir selalu tidur 3 - 4 jam sehari selama dua minggu terakhir. Tanpa tidur siang.

Bisa dibayangkan bentuk muka dan mata gw sekarang.

Sampe-sampe Ivan bilang gw pake bedak gak rata karena mata gw item luar biasa. Boro pake bedak, nyisir rambut aja udah bagus.

Kata temen-temen gw, inilah kehidupan anak teknik. Kalo kata gw, ini kehidupan peternakan. Capek banget gila. Masih mending sapi diperes keluar susu, lah gw diperes jadi mabok.

Jadi... ini Sabtu pagi.

Selamat tidur :)

Minggu, 20 September 2015

Menyerah Itu Sulit

Orang selalu bilang, jangan menyerah. Sampe-sampe D'Masiv bikin lagunya.

Hiyaaa gaje

Gw suka banget nulis fiksi. Meski tulisan gw sampah, tapi rasanya seneng aja merangkai kata-kata, nulis plot, sok sokan pokoknya.
Pada suatu saat, gw lagi gandrung banget baca The Hunger Games berbarengan sama Harry Potter. Jadi, gw dengan pedenya berusaha nulis novel dengan dunia buatan gw sendiri.

Selang beberapa minggu, akhirnya gw mencapai 30 ribu kata. Banyak juga, gw pikir. Pas lagi buntu, gw membaca tulisan gw dari awal. Terus, ada sebuah kalimat yang gw gak inget pernah gw tulis, tapi ya emang gw yang nulis (abisan siapa lagi coba dah). Tulisannya gini :

"Menyerah itu sulit."

Terus gw jadi inget kegundahan hati.

Gw udah sering cerita ke temen-temen deket gw kalo keterimanya gw di tempat kuliah sekarang merupakan sebuah kebahagian sekaligus torture buat diri gw sendiri. Di satu sisi, gw gak perlu ngeluarin biaya apapun lagi untuk daftar tes tulis PTN, keterima di jurusan bagus, di PTN bagus, dengan UKT yang gak mahal. Tapi, di satu sisi, berarti gw harus nyerah sama mimpi gw sendiri. 

Lama, sumpah lama banget waktu yang gw laluin untuk sadar kalo ternyata apa yang selama ini bakalan jadi masa depan gw  gak akan pernah terjadi.  Jadi engineer gak pernah terlintas di benak barang sedetik pun (ya kali, UN Fisika lulus aja gw tercengang-cengang).

Setelah gw senang-senang daftar ulang, siap siap, rapi rapi untuk pindah, bersamaan pula dengan pengumuman-pengumuman temen-temen yang berhasil ngedapetin yang mereka mau, bersamaan dengan temen-temen yang punya mimpi sama kayak gw and they got it. Mulai perih. "Gak apa-apa, it's okay," gw pikir kala itu.

Tapi semuanya gak baek-baek aja. Setelah gw pindah ke Surabaya, ada jeda 2 minggu gw sendirian. Dan, gw kasih tau, sendirian memang menyenangkan, tapi bukan pilihan yang tepat ketika lo lagi gagal mendapatkan apa yang lo mau. Gw sering banget meledak di depan orang orang, gw itu manusia gagal. Apa yang gw mau, yang orang tua gw harapkan sejak gw masih bocah keriting gendut, dengan PDnya mengungkapkan impiannya ke orang lain, gak bisa gw capai. Bayangan akan jadi apa gw selama 18 tahun hilang. 

Menyerah itu sulit, kawan. Ketika lo begitu menginginkan sesuatu, berusaha mengejarnya, gagal, dan memutuskan untuk berhenti berharap dan berusaha, tolong diinget. Lo harus jadi orang yang kuat untuk melepas mimpi lo. Karena, kalo lo gak kuat, lo akan teringat ketololan itu, mikir. Kenapa gak gini? Kenapa gak gitu? Entah hari ini, besok, lima tahun lagi, dua puluh lima tahun lagi, ya, mungkin hidup lo akan bahagia. Tapi, disebabkan di masa lalu lo pernah nyerah, lo akan bertanya pada diri sendiri : "Gimana kalo waktu itu gw gak nyerah?"

Menyerah itu sulit. Ketika lo pikir lo akhirnya bebas dari impian lo sendiri, lo salah. Lo akan dikejar rasa bersalah. Dan butuh kekuatan ekstra buat melepas diri lo dari rasa bersalah itu. 

Menyerah itu sulit. Ketika lo menyerah dan lo dengan mudah melepas, then you are not loving it enough. Cuma ngayal doang.
Gw adalah salah satu orang beruntung yang jatuh cinta pada apa yang gw pelajari not long after the first week. Tapi, butuh waktu yang gak sebentar dan tekad yang gak kecil untuk berhenti berpikir, "Kalo gw dulu gak disini, gw bakal jadi apa?"

Menyerah itu sulit. Yang sulit itu bukan ketika lo mutusin, "Yep, gw nyerah." Tapi setelahnya, ketika lo melihat ke belakang, berusaha mengingat-ingat alasan kenapa lo dulu nyerah.

Menyerah itu sulit. Jadi, jangan.